Rabu, 18 Maret 2015

Tulisan siswa yang menjengkelkan

Hari senin, beberapa hari lalu guru-guru dibuat geram oleh tulisan yang tak pantas dibaca oleh siapa saja di wc guru, tulisan tersebut tertulis dikaca wastafel. Tulisan yang tak senonoh itu ditujukan kepada salah satu operator yang ada disekolah kami, tentu saja ini membuat ia menjadi meradang. Dengan nada kesal ia menyatakan akan melacak dan mencari siapa otak pelaku semua ini.

Sejak awal memang kami sudah mencurigai kelas tinggi sebagai pelakunya, karena hanya mereka yang suka mondar-mandir di wc tersebut, padahal sudah ada pemberitahuan dan tulisan bahwa wc tersebut hanya dikhususkan untuk guru. Ya…namanya juga anak-anak ada saja peraturan yang suka dilanggarnya, lagian ga mungkin guru harus menjaga pintu wc tersebut selama kegiatan sekolah berlangsung (satpam WC kali…).


Klik…dengan sekali jepret ibu operator tersebut telah menyimpan hasil tulisan tersebut dalam kamera smartphonenya, setelah itu dihapusnya tulisan yang menjengkelkan tersebut dengan hati yang masih mendongkol. Dengan sigap ia menghubungi wali kelas 6a dan 6b untuk mengumpulkan buku-buku mereka, kali ini yang jadi sasaran utama adalah murid laki-laki, emang dari dulu murid laki-laki paling susah diatur, (ga semua juga sih……). Kami mulai melacak satu persatu untuk menyamakan tulisan yang ada di wc dengan tulisan di buku mereka. Belum ada tanda-tanda.

Hari selasa, beberapa guru bekerjasama dengan wali kelas mulai bekerja keras untuk menemukan siapa dalangnya. Ini tak boleh didiamkam berlarut-larut dan mungkin saja ia akan mengulang dan terus mengulang perbuatannya tersebut, dan bisa saja nantinya akan terbawa-bawa hingga di  sekolah lanjutan. Dengan melakukan investigasi dan interogasi, kami memanggil beberapa murid yang masuk dalam daftar orang yang dicuriga (boleh juga nie tim guru). Murid yang masuk dalam daftar tersebut adalah murid yang paling nakal dan yang paling sering duduk manis depan wc, tak terkecuali kelas 5.

Kamipun mulai mencari letak kesamaan setiap huruf yang ada di kaca wc dengan tulisan yang ada pada buku mereka. Sepertinya teka-teki sedikit mulai terkuak dengan melihat tulisan tangan mereka, salah satu siswa telah masuk catatan kami sebagai pelaku utamanya, interogasipun dilakukan oleh wakasek dan guru penjas sekolah kami, dengan sedikit penekanan. Akhirnya iapun mengakui perbuatannya, dengan sedikit kesal dan berlinangan airmata ibu operatorpun memarahinya habis-habisan.

Heem…geram juga aku melihatnya, rasanya ingin sekali menampar pipinya jika mengingat kata-kata jorok yang ada ditulisnya tersebut. Entah setan apa yang merasukinya. Dimana akhlak mulia yang setiap hari kami tanamkan pada mereka, rasanya sia-sia semua pendidikan karakter yang sudah kami berikan selama ini. Wajahnya yang tertunduk lesu tak mampu menutupi kejengkelan kami. Hanya bisa  kembali pada satu kalimat “menjadi tenaga pendidik memang butuh kesabaran”. Ah…aku hanya bisa bertanya dalam hati sebatas apa sih kesabaran seorang guru menghadapi polah tingkah siswa yang  sungguh sangat beraneka ragam???

Rabu, misteri yang mengusik ketenangan mengajar kami terpecahkan, bersama sang mama, murid tersebut meminta maaf kepada operator sekolah kami, dengan menandatangani perjanjian bahwa tak akan mengulangi perbuatannya tersebut. Kami berharap semoga ia sadar, dan takkan mengulangi perbuatannya tersebut.