Hari senin, beberapa hari lalu guru-guru
dibuat geram oleh tulisan yang tak pantas dibaca oleh siapa saja di wc guru,
tulisan tersebut tertulis dikaca wastafel. Tulisan yang tak senonoh itu
ditujukan kepada salah satu operator yang ada disekolah kami, tentu saja ini membuat
ia menjadi meradang. Dengan nada kesal ia menyatakan akan melacak dan mencari
siapa otak pelaku semua ini.
Sejak awal memang kami sudah
mencurigai kelas tinggi sebagai pelakunya, karena hanya mereka yang suka
mondar-mandir di wc tersebut, padahal sudah ada pemberitahuan dan tulisan bahwa
wc tersebut hanya dikhususkan untuk guru. Ya…namanya juga anak-anak ada saja
peraturan yang suka dilanggarnya, lagian ga mungkin guru harus menjaga pintu wc
tersebut selama kegiatan sekolah berlangsung (satpam WC kali…).
Klik…dengan sekali jepret ibu
operator tersebut telah menyimpan hasil tulisan tersebut dalam kamera
smartphonenya, setelah itu dihapusnya tulisan yang menjengkelkan tersebut dengan
hati yang masih mendongkol. Dengan sigap ia menghubungi wali kelas 6a dan 6b
untuk mengumpulkan buku-buku mereka, kali ini yang jadi sasaran utama adalah
murid laki-laki, emang dari dulu murid laki-laki paling susah diatur, (ga semua
juga sih……). Kami mulai melacak satu persatu untuk menyamakan tulisan yang ada
di wc dengan tulisan di buku mereka. Belum ada tanda-tanda.
Hari selasa, beberapa guru bekerjasama
dengan wali kelas mulai bekerja keras untuk menemukan siapa dalangnya. Ini tak
boleh didiamkam berlarut-larut dan mungkin saja ia akan mengulang dan terus
mengulang perbuatannya tersebut, dan bisa saja nantinya akan terbawa-bawa
hingga di sekolah lanjutan. Dengan melakukan
investigasi dan interogasi, kami memanggil beberapa murid yang masuk dalam
daftar orang yang dicuriga (boleh juga nie tim guru). Murid yang masuk dalam
daftar tersebut adalah murid yang paling nakal dan yang paling sering duduk
manis depan wc, tak terkecuali kelas 5.
Kamipun mulai mencari letak
kesamaan setiap huruf yang ada di kaca wc dengan tulisan yang ada pada buku
mereka. Sepertinya teka-teki sedikit mulai terkuak dengan melihat tulisan
tangan mereka, salah satu siswa telah masuk catatan kami sebagai pelaku
utamanya, interogasipun dilakukan oleh wakasek dan guru penjas sekolah kami,
dengan sedikit penekanan. Akhirnya iapun mengakui perbuatannya, dengan sedikit
kesal dan berlinangan airmata ibu operatorpun memarahinya habis-habisan.
Heem…geram juga aku melihatnya,
rasanya ingin sekali menampar pipinya jika mengingat kata-kata jorok yang ada
ditulisnya tersebut. Entah setan apa yang merasukinya. Dimana akhlak mulia yang
setiap hari kami tanamkan pada mereka, rasanya sia-sia semua pendidikan
karakter yang sudah kami berikan selama ini. Wajahnya yang tertunduk lesu tak
mampu menutupi kejengkelan kami. Hanya bisa kembali pada satu kalimat “menjadi tenaga
pendidik memang butuh kesabaran”. Ah…aku hanya bisa bertanya dalam hati sebatas
apa sih kesabaran seorang guru menghadapi polah tingkah siswa yang sungguh sangat beraneka ragam???
Rabu, misteri yang mengusik
ketenangan mengajar kami terpecahkan, bersama sang mama, murid tersebut meminta
maaf kepada operator sekolah kami, dengan menandatangani perjanjian bahwa tak
akan mengulangi perbuatannya tersebut. Kami berharap semoga ia sadar, dan
takkan mengulangi perbuatannya tersebut.
